Sabtu, 22 November 2014

laporan tentang indische partij

LAPORAN SEJARAH
ORGANISASI PERGERAKAN NASIONAL
 “INDISCHE PARTIJ”




PENYUSUN:
1.      MUH.ARDI RAMDANI
2.      FRADWIYAN A. RAHMAN R
3.      ARDIAN FAHMI HIDAYAT
4.      M.SYARIEF HIDAYATULLAH


KELAS: XI.IPA 2


 




SMA NEGERI  1  AIKMEL

Tahun Pelajaran 2014/2015

 

KATA PENGANTAR

 

Pertama-tama marilah kita panjatkan puja dan puji syukur kita kehadirat Allah SWT, karena berkat karunai,rahmad,dan hidayahnya,laporan ini dapat terselesaikan.

Kedua kalinya marilah kita haturkan shalawat serta salam kepada baginda nabi besar Muhammad SAW,karena berkat jasa-jasa beliaulah kita bisa merasakan kenikmatan islam ini.

Mudah-mudahan dengan adanya laporan ini bisa mendatangkan manfaat bagi kita semua,terutama bagi kaum pelajar atau generasi-generasi penerus bangsa sehingga bisa mencontoh pergerakan nasional yang dilakukan oleh para pemimpin bangsa kita terdahulu,yaitu dengan menghadapi suatu persoalan dengancara-cara yang baik,tidak menggunakan kekerasan.

 

 

 

 














BAB I                 PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
Indische Partij adalah organisasi modern ketiga yang berdiri setelah Budi Utomo dan Sarekat Islam . Organisasi ini merupakan organisasi pertama yang secara tegas menyatakan berpolitik. Dengan  demikian IP adalah partai politik pertama di Indonesia. Indische Partij ingin menggantikan Indische Bond yang berdiri pada tahun 1898. Indische Bond adalah organisasi kaum Belanda peranakan (Indo) dengan pimpinan K. Zaalberg, seorang indo. Tujuan dibentuknya IP ini adalah untuk memperbaiki keadaan kaum Indo. Pada masa itu kaum Indo menaruh dendam kepada bangsa Belanda dan segala sesuatu yang bercorak Belanda. Hal ini disebabkan kaum Indo seolah-olah menjadi "golongan yang dilupakan" oleh bangsa Belanda.
B.  Rumusan Masalah
1. Apakah latar belakang dibentuknya organisasi indische partij?
2. Apakah tujuan di bentuknya organisasi indische partij?
3.Apakah penyebab kemunduran organisasi indische partij?

C.   Tujuan
1. Siswa dapat mengetahui apa latar belakang terbentuknya indische partij
2. Siswa dapat mengetahui tujuan dibentuknya organisasi indische partij
3. Siswa dapat mengetahui pergerakan dan bagaimana kemunduran indische partij?





BAB II                          PEMBAHASAN

A.  Latar Belakang
Indische Partij adalah organisasi modern ketiga yang berdiri setelah Budi Utomo dan Sarekat Islam . Organisasi ini merupakan organisasi pertama yang secara tegas menyatakan berpolitik. Dengan  demikian IP adalah partai politik pertama di Indonesia. Indische Partij ingin menggantikan Indische Bond yang berdiri pada tahun 1898. Indische Bond adalah organisasi kaum Belanda peranakan (Indo) dengan pimpinan K. Zaalberg, seorang indo. Tujuan dibentuknya IP ini adalah untuk memperbaiki keadaan kaum Indo. Pada masa itu kaum Indo menaruh dendam kepada bangsa Belanda dan segala sesuatu yang bercorak Belanda. Hal ini disebabkan kaum Indo seolah-olah menjadi "golongan yang dilupakan" oleh bangsa Belanda.
Douwes Dekker melihat keganjilan-keganjilan dalam masyarakat kolonial khususnya dalam hal diskriminasi antara keturunan Belanda totok dan orang Bwlanda campuran (Indo)..Nasib para Indo tidak ditentukan oleh pemerintahan kolonial,namun terletak pada bentuk kerjasama dengan penduduk Indonesia lainnya. Bahkan menurut Douwes Dekker yang kemudian dikenal dengan nama Danudirdja Setyabudhi,ia tidak mengenak supremasi Indo atas penduduk bumiputera malah ia menghendaki hilangnya golongan Indo dengan cara bercampur dengan bumiputera.
 Douwes Dekker, seorang Indo, berusaha mempengaruhi Indische Bond. Menurutnya,segala keluh kesah dan bantahan-bantahan tidak aka nada gunanya. Sumber dari segala kesukaran itu dikarenakan ketergantungan  pada pemerintah kolonial yang menyebabkan kaum Indo menderita dan dicampakan.
  Pendirian organisasi ini dipertegas lagi pada sidang Indische Bond yang diselenggarakan di Jakarta tanggal 12 desember 1911, dengan pokok pidato "Gabungan kulit putih dengan sawo matang". Ia berkata, bahwa jumlah kaum Indo sangat sedikit, sehingga jika ia bertindak seorang diri,maka ia tak mungkin memperoleh keuntungan. Syarat untuk memperoleh kemenangan dalam pertentangan dengan penjajah Belanda ialah menggabungkan diri dengan bangsa Indonesia agar kedudukan organisasinya makin bertambah kuat.
   Pendapat Douwes Dekker berbeda dengan pendapat Zaanberg, pemimpin Indische Bond. Ia menerima ketergantungan terhadap pemerintah kolonial. Menurut Zaanberg,dalam ketergantungan itu,kaum indo akan hidup berbahagia, asalkan  pemerintah dan orang-orang Eropa lapisan atas suka menolongnya.Zaalberg ingin mengekalkan penjajahan sedangkan Douwes Dekker ingin menghapuskan penjajahan itu.
Untuk persiapan pendirian Indische Partij, maka mulai tanggal 15 September - 3 oktober 1912, Douwes Dekker mengadakan perjalanan Propaganda di Pulau Jawa. Di Surabaya, ia mendapat sokongan dari Dokter Tjipto Mangoen Koesoemo. Di Bandung ia mendapat sokongan dari R.M. Soewardi Soerjaningrat, juga Abdul Muis yang pada saat tu telah menjadi pimpinan Sarekat Islam cabang Bandung. Di Yogyakarta mendapat sambutan baik dari pengurus Budi Utomo,juga daerah Jawa Barat,Jawa Tengah dan Jawa Timur.Mereka merupakan "tiga serangkai" yang sangat ditakuti oleh Belanda. Mereka ialah tokoh-tokoh Indische Partic yang didirikan di Bandung pada tanggal 25 Desember 1912 yang mana semboyannya yaitu Hindia for Hindia/ INDIE VOOR INDERS  yang berarti Indonesia hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang menetap dan bertempat tinggal di Indonesia tanpa terkecuali dan Indie Os Van Holland(Hindia bebas dari Holland)


B.   Tujuan Indische Partij
            Dalam anggaran dasar indische partij (Pasal 2) dirumuskan tujuan sebagai berikut :
a. Untuk membangun patriotisme semua “Indiers” kepada tanah air yang telah memberi lapangan hidup kepada mereka.
b. Menganjurkan kerjasama atas dasar persamaan ketatanegaraan.
c. Memajukan tanah air Hindia.
d. Mempersiapkan kehidupan rakyat yang merdeka.
e.  Mempersatukan seluruh bangsa Hindia
f.  Mencapai kemerdekaan indonesia

Adapun saha-usaha untuk mencapai tujuan itu adalah sebagai berikut :
a.  Memelihara Nasionalisme Hindia, dengan cara meresapkan cita-cita kesatuan bangsa terhadap semua bangsa Hindia, meluaskan pengetahuan umum tentang sejarah kebudayaan Hindia, menyatupadukan intelek secara bertahap kedalam golongan-golongan bangsa yang masih hidup bersama dalam keadaan terpisah karena ras masing-masing, menghidupkan kesadaran diri dan kepercayaan terhadap diri sendiri.
b.  Menyingkirkan kesombongan rasial dan keistimewaan ras, baik dalam bidang ke tatanegaraan maupun dalam bidang kemasyarakatan, melawan usaha untuk membangkitkan kebencian terhadap agama dan sektarisme yang bisa mengakibatkan bangsa Hindia tidak mengenal satu sama lain, dan memajukan kerjasama nasional.
c.  Memperkuat tenaga bangsa Hindia dengan cara mengembangkan individu ke arah aktivitas yang lebih besar lagi dan memperkuat kekuatan batin dalam hal kesusilaan.
d.  Mengusahakan persamaan hak bagi semua orang Hindia.
e.   Memperkuat pertahanan bangsa Hindia untuk mempertahankan tanah air dari serangan asing.
f.  Mengusahakan unifikasi, perluasan, pendalaman dan Hindianisasi pengajaran, yang di dalam semua hal harus ditujukan kepada kepentingan ekonomis Hindia, dimana tidak diperbolehkan adanya perbedaan perlakuan ras, seks atau kasta dan harus dilaksanakan sampai tingkat setinggi-tingginya yang bisa di capai.
g.  Memperbesar pengaruh Pro-Hindia ke dalam pemerintahan.
h.  Memperbaiki keadaan ekonomi bangsa Hindia, terutama dengan memperkuat yang lemah ekonominya.
i.      Memberantas usaha yang membangkitkan kebencian antara agama yang satudengan agama yang lainnya.
C.  Keanggotaan
        Keanggotaan Indische Partij terbuka untuk semua golongan bangsa tanpa membedakan tingkatan kelas, seks atau kasta, golongan bangsa yang menjadi anggotaIndische Partij adalah golongan bumiputera, golongan Indo, Cina dan Arab yang mana Indonesia dikenal sebagai “national home”.
        Keanggotaan Indische Partij tersebar pada 30 cabang dengan jumlah anggota seluruhnya 7.300 orang, sebagian besar golongan Indo. Sedangkan jumlah anggota golongan bumiputera adalah 1.500 orang, kebanyakan golongan terpelajar. Indische Partij Cabang antara lain adalah Semarang, dengan jumlah anggota 1.300 orang, Surabaya dengan jumlah anggota 850 orang, Bandung dengan jumlah anggota 700 orang, Batavia dengan Jumlah anggota 654 orang.
           Jika dibandingkan dengan Budi Utomo dan Sarekat Islam, maka keanggotaan Indische Partij  lebih kecil jumlahnya. Mungkin hal ini disebabkan karena adanya perasaan takut untuk memasuki suatu perkumpulan politik. Adanya pasal 111 Regerings-Reglement (RR), yang berbunyi "Bahwa perkumpulan-perkumpulan atau persidangan-persidangan yang membicarakn soal pemerintahan (politik) atau membahayakan keamanan umum dilarang di Hindia Belanda". Pasal ini merupakan tembok penghalang yang sukar ditembus oleh Indische Partij dalam mengembangkan jumlah Anggotanya.

D.  Perjuangan Indische Partij untuk memperoleh Badan Hukum.
      Di dalam rapat pendirian IP pada tanggal 25 Desember 1912 ditetapkan pula anggaran dasarnya.Lalu anggaran dasar itu diberikan kepada pemerintah untuk mendapatkan pengesahan supaya menjadikan IP berbadan hukum. Sikap Gubernur jendral Idenberg terhadap IP berbeda dengan sikapnya kepada Budi Utomo maupun Sarekat Islam. Sikapnya terhadap Budi Utomo dan Sarekat Islam sangat berhati-hati,namun sikapnya terhadap IP sangat tegas. Gub.Jen. Idenberg menolak anggaran dasar IP dengan surat keputusan tanggal 4 Maret 1913. Alasan penolakannya yaitu karena perkumpulan itu berlandas politik dan mengancam hendak merusak keamanan umum, harus dilarang pendiriannya, menurut pasal 111 RR".
Di dalam rapat tanggal 5 Maret 1913 pimpinan IP memutuskan untuk mengubah bunyi pasal 2 tentang tujuan IP . Setelah diubah bunyinya menjadi:
a. Memajukan kepentingan anggota di dalam segala lapangan, baik jasmani maupun rohani.
b. Menambah kesentosaan kehidupan rakyat di Hindia Belanda.
c. Berdaya upaya menghilangkan segala rintangan dan Undang-undang Negara yang menghalangi terciptanya tujuan, dan
d. Minta diadakan undang-undang dan ketentuan-ketentuan yang menunjang tercapainya tujuan.

Tanggal 5 Maret 1913 IP mengajukan lagi untuk kedua kalinya anggaran dasar agar dapat disahkan oleh pemerintah. Dengan surat keputusan tanggal 11 Maret 1913 Gub.Jend. menolak anggaran dasar IP yang baru. Bunyi penolakan itu adalah:
 "Menimbang bahwa perubahan yang diadakan pada pasal 2 anggaran dasar itu, sekali-kali tidak bermaksud merubah dasar dan jiwa organisasi itu yang sebenarnya, yang diterangkan dalam surat keputusan tanggal 4 Maret 1913 No.1 maka kenyataan itu adalah jelas daripada keterangan ketua organisasi IP, atas pernyataan cabang Indramayu yang tertulis di dalam notulen persidangan tanggal 25 Desember 1912 dan dilampirkan di dalam surat permohonan pucuk pimpinan IP tanggal 16 Maret 1913. Maka berhubung dengan itu, pemerintah Hindia Belanda tetap menguatkan surat keputusan tanggal 4 Maret 1913".
Walaupun kemudian pucuk pimpinan IP  beraudiensi kepada Gub.Jend Idenburg untuk mengulangi permohonan badan hukum itu, tetapi pemerintah Hindia Belanda tetap pada pendiriannya.
Dengan adanya penolakan itu berarti IP menjadi partai terlarang dan hanya berusia 6 Bulan. Meskipun usianya pendek tetapi semangat dan jiwa IP tetap mendapatkan tempat pada para pemimpin pergerakan saat itu.



E.   Penangkapan dan Pengasingan(kemunduran)
        Pemerintah kolonial Belanda ingin merayakan 100 tahun bebasnya negeri Belanda dari jajahan Perancis pada tahun 1813.Perencanaan 100 tahun kemerdekaan negeri Belanda di tanah jajahan ini menimbulkan perasaan anti pati dan penghinaan terhadap rakyat jajahan. Untuk mengimbangi niat pemerintah kolonial Belanda itu, didirikanlah sebuah Komite yang dikenal sebagai "Komite Boemi Poetra" di Bandung. Tujuan Komite itu adalah :
a. Mengirimkan telegram kepada Ratu Belanda agar  mencabut pasal 111 RR.     
b. Membentuk majelis perwakilan rakyat sejati.
c.  Adanya kebebasan berpendapat di tanah jajahan.
Salah satu pemimpin Komite Boemi Poetra, R.M. Soewardi Soerjaningrat menulis sebuah artikel dalam Harian De Express (edisi 19 Juli) dengan judul Als Ik Eens Nederlander Was (Seandainya aku seorang Belanda) yang menyinggung perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda.
Di dalam artikel itu ia menulis antara lain "…Seandainya Aku Seorang Belanda, masih belumlah saya dapat berlaku sekehendak hati saya. Dengan sesungguhnya saya akan mengharap-harap, semoga peringatan hari kemerdekaan itu, di pesta seramai-ramainya, tapi saya tidak akan menyukai, jika anak-anak negeri dari tanah jajahan ini dibawa-bawa larut berpesta. Saya akan melarang mereka turut bergembira dan bersuka ria di hari-hari keramaian itu, bahkan saya akan meminta di tempat pesta, agar tidak ada seorang diantara anak-anak negeri yang dapat terlihat, secara apa kita beriang-riang dalam memperingati hari kemerdekaan itu.Sejalan dengan aliran itu, bukan saja tidak adil, tapi terlebih lagi tidak patut, jika anak-anak negeri disuruh menyumbang uang pula untuk turut membelanjai pesta itu. Jika mereka itu telah diperhatikan dengan laku mengadakan pesta kemerdekaan untuk negeri Belanda, sekarang orang bermaksud pula hendak mengosongkan kantong uangnya. Sesungguhnya, suatu penghinaan lahir dan batin"
Tulisan R.M. Soewardi Soerjaningrat ini mendapat reaksi yang hebat dari pemerintah kolonial Belanda. Terjadilah pemeriksaan-pemeriksaan yang intensif terhadap “Tiga Serangkai” oleh Kejaksaan. Dengan menggunakan "Hak Luar Biasa" (Exorbitante rechten).Gub.Jend. Idenburg mengeluarkan surat keputusan tanggal 18 Agustus 1913 untuk mengasingkan ketiga pemimpin “Komite Boemi Poetra” itu.Beberapa tempat ditunjuk untuk mereka. Kupang untuk Tjipto Mangoenkoesoemo, Banda untuk R.M. Soewardi Soerjaningrat, dan Bengkulu untuk Douwes Dekker.
Disamping itu ditetapkan pula dalam surat keputusan tanggal 18 Agustus 1913 bahwa mereka bebas berangkat keluar Hindia Belanda. Mereka bertiga memilih diasingkan di luar negeri, yaitu ke negeri Belanda. Mereka berangkat ke Negeri pengasingan tanggal 6 September 1913. Hari keberangkatannya ini diproklamasikan sebagai "Hari Raya Kebangsaan".Pembuangan tiga serangkai itu membawa dampak luas,tidak saja di Hindia Belanda,akan tetapi juga di negeri Belanda.Di Hindia Belanda,keberadaan mereka semakin mendorong bumipitera untuk memperjuangkan hak-haknya.Sementara di Negeri Belanda menjadi perdebatan politik di kalangan DPR Belanda tentang pergerakan rakyat Indonesia.
Dengan diasingkannya ketiga pimpinan tersebut, maka secara organis IP tidak berperan lagi dalam pergerakan nasional Indonesia.Lalu IP berganti nama menjadi Partai Insulinde yang kemudian tahun 1919 berganti nama menjadi National Indische Partij(NIP).Dalam perkembangannya partai ini tidak mempunyai pengaruh terhadap rakyat bahkan hanya merupakan perkumpulan orang-orang terpelajar.Ki hajar Dewantoro kemudian mendirikan Taman Siswa(1922),sebagai badan perjuangan kebudayaan dan perjuangan politik.

 

 

BAB III                          PENUTUP

 

A.   Kesimpulan

 

Indische Partij adalah organisasi modern ketiga yang berdiri setelah Budi Utomo dan Sarekat Islam . Organisasi ini merupakan organisasi pertama yang secara tegas menyatakan berpolitik. Dengan  demikian IP adalah partai politik pertama di Indonesia. Indische Partij ingin menggantikan Indische Bond yang berdiri pada tahun 1898. Indische Bond adalah organisasi kaum Belanda peranakan (Indo) dengan pimpinan K. Zaalberg, seorang indo. Tujuan dibentuknya IP ini adalah untuk memperbaiki keadaan kaum Indo. Pada masa itu kaum Indo menaruh dendam kepada bangsa Belanda dan segala sesuatu yang bercorak Belanda. Hal ini disebabkan kaum Indo seolah-olah menjadi "golongan yang dilupakan" oleh bangsa Belanda.
Salah satu pemimpin Komite Boemi Poetra, R.M. Soewardi Soerjaningrat menulis sebuah artikel dalam Harian De Express (edisi 19 Juli) dengan judul Als Ik Eens Nederlander Was (Seandainya aku seorang Belanda) yang menyinggung perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda,Sehingga Belanda menjadi marah,dan mengkap ketiga serangkai tersebut dan mengasingkannya ke Belanda.

B.   Saran

 

        Kami mengharapkan kritikan,saran dari bapak dan ibu guru,maupun teman-teman apabila terdapat kesalahan dari laporan kami ini,sehingga laporan kami ini dapat tersempurnakan.

 


















DAFTAR PUSTAKA
http://johan-mustopa.blogspot.com/2014/05/laporan-persentasi-indische-partij.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar